Balada Koper

Follow my blog with Bloglovin
 

Kok tiba tiba ingin menulis. Sesuatu yang membuat saya agak mikir cukup lama. Apa hubungannya musibah koper terbongkar dengan mental bangsa? Oke, saya mencoba menghubungkannya. Anggap saja seorang oknum petugas berkebangsaan sama dengannya adalah orang yang membongkar koper itu. Dan perbuatan itu dianggap atau disahkan atau memang sebagai tindakan tidak pantas, melanggar etika atau lebih berat lagi melanggar hukum. Perbuatan itu dianggap menunjukkan bahwa mental orang itu bermasalah , mungkin pelakunya lebih dari satu orang, bisa dua  atau sekelompok orang tapi tetap saja semua itu tidak menjadikan semua orang yang kebetulan punya kebangsaan yang sama dengan oknum itu menjadi salah.

Jadi yang bersalah itu oknum perseorangan atau sekelompok yang membuat kesalahan itu, dan ketika semua itu dihubungkan dengan mental bangsa kok kesannya jadi kesalahan majemuk ya? Ah si lady ini kan memang cerdas, hebat dan mungkin saja dia berhak marah dan mengatakan hal hal yang demikian, tapi kalau semuanya digeneralisasikan berarti si lady ini juga sama dong karena kebetulan satu bangsa yang mempunyai keidentikan sifat, karakter, dan mental yang sama, katanya. Ah, marah marah di social media tidak membuat kopernya jadi utuh seperti sedia kala, lega sih mungkin karena sudah bisa menunjukkan kesalahan dan ‘kekurangan’ pihak lain sehingga si Lady ini semakin kelihatan hebat dan cerdas saja. Tapi apakah harus seperti itu? Mungkin akan lebih bijaksana lagi kalau langsung complain dengan pihak yang berwenang, kalaupun membagi informasi, keluhan, dan kekecewaan di social media, tidak perlu bernada seperti itu. Katanya, sifat orang sebenarnya bisa terlihat lho saat marah, Nah.

Saya jadi ingat lady yang satunya lagi, Elegan, modest dan berprestasi. Sama, Go international juga, cabut seakar akarnya, pindah kewarganegaraan, sekalian saja. Sepanjang yang saya tahu  ia tetep humble.

Baiklah, saya tidak harus dan tidak perlu membahas panjang lebar lagi tentang koper itu, semoga saja hal itu tidak terjadi lagi. Si lady bisa bepergian dengan nyaman dan tenang dan mental bangsa tidak dibawa bawa, kasihan kau mental bangsa.

 

Leave a Comment.

*